Saturday, December 20, 2008

kisah orang tua bijak


Kisah Orang Tua Bijak
Pernah ada seorang tua yang hidup di desa kecil. Meskipun ia miskin,semua orang cemburu kepadanya karena ia memiliki kuda putih cantik.Bahkan raja menginginkan hartanya itu. Kuda seperti itu belum pernahdilihat orang, begitu gagah, anggun dan kuat.Orang-orang menawarkan harga amat tinggi untuk kuda jantan itu,tetapi orang tua itu selalu menolak : "Kuda ini bukan kuda bagisaya", katanya : "Ia adalah seperti seseorang. Bagaimana kita dapatmenjual seseorang. Ia adalah sahabat bukan milik. Bagaimana kitadapat menjual seorang sahabat ?" Orang itu miskin dan godaan besar.Tetapi ia tidak menjual kuda itu.Suatu pagi ia menemukan bahwa kuda itu tidak ada di kandangnya.Seluruh desa datang menemuinya.

"Orang tua bodoh", mereka mengejekdia : "Sudah kami katakan bahwa seseorang akan mencuri kudamu. Kamiperingatkan bahwa kamu akan di rampok. Anda begitu miskin... Manamungkin anda dapat melindungi binatang yang begitu berharga ?Sebaiknya anda menjualnya. Anda boleh minta harga apa saja. Hargasetinggi apapun akan dibayar juga. Sekarang kuda itu hilang dan andadikutuk oleh kemalangan".Orang tua itu menjawab : "Jangan bicara terlalu cepat. Katakan sajabahwa kuda itu tidak berada di kandangnya. Itu saja yang kita tahu;selebihnya adalah penilaian. Apakah saya di kutuk atau tidak,bagaimana Anda dapat ketahui itu ? Bagaimana Anda dapatmenghakimi?".

Orang-orang desa itu protes : "Jangan menggambarkan kamisebagai orang bodoh! Mungkin kami bukan ahli filsafat, tetapi filsafathebat tidak di perlukan. Fakta sederhana bahwa kudamu hilangadalah kutukan".Orang tua itu berbicara lagi : "Yang saya tahu hanyalah bahwakandang itu kosong dan kuda itu pergi. Selebihnya saya tidak tahu.Apakah itu kutukan atau berkat, saya tidak dapat katakan.Yang dapatkita lihat hanyalah sepotong saja. Siapa tahu apa yang akan terjadinanti ?"Orang-orang desa tertawa. Menurut mereka orang itu gila. Merekamemang selalu menganggap dia orang tolol; kalau tidak, ia akanmenjual kuda itu dan hidup dari uang yang diterimanya. Sebaliknya,ia seorang tukang potong kayu miskin, orang tua yang memotong kayubakar dan menariknya keluar hutan lalu menjualnya. Uang yang iaterima hanya cukup untuk membeli makanan, tidak lebih. Hidupnyasengsara sekali. Sekarang ia sudah membuktikan bahwa ia betul-betultolol.Sesudah lima belas hari, kuda itu kembali. Ia tidak di curi, ia larike dalam hutan. Ia tidak hanya kembali, ia juga membawa sekitarselusin kuda liar bersamanya.Sekali lagi penduduk desa berkumpulsekeliling tukang potong kayu itu dan mengatakan : "Orang tua, kamubenar dan kami salah. Yang kami anggap kutukan sebenarnya berkat.Maafkan kami".Jawab orang itu: "Sekali lagi kalian bertindak gegabah. Katakan sajabahwa kuda itu sudah balik. Katakan saja bahwa selusin kuda balikbersama dia, tetapi jangan menilai. Bagaimana kalian tahu bahwaini adalah berkat ? Anda hanya melihat sepotong saja. Kecuali kalaukalian sudah mengetahui seluruh cerita, bagaimana anda dapat menilai?Kalian hanya membaca satu halaman dari sebuah buku.


Dapatkah kalian menilai seluruh buku? Kalian hanya membaca satukata dari sebuah ungkapan. Apakah kalian dapat mengerti seluruhungkapan ? Hidup ini begitu luas, namun Anda menilai seluruh hidupberdasar! kan satu halaman atau satu kata.Yang anda tahu hanyalahsepotong! Jangan katakan itu adalah berkat. Tidak ada yang tahu.Saya sudah puas dengan apa yang saya tahu. Saya tidak terganggukarena apa yang saya tidak tahu"."Barangkali orang tua itu benar," mereka berkata satu kepada yanglain. Jadi mereka tidak banyak berkata-kata. Tetapi di dalam hatimereka tahu ia salah. Mereka tahu itu adalah berkat. Dua belas kudaliar pulang bersama satu kuda. Dengan kerja sedikit, binatang itudapat dijinakkan dan dilatih, kemudian dijual untuk banyak uang.Orang tua itu mempunyai seorang anak laki-laki. Anak muda itu mulaimenjinakkan kuda-kuda liar itu. Setelah beberapa hari, ia terjatuhdari salah satu kuda dan kedua kakinya patah. Sekali lagi orang desaberkumpul sekitar orang tua itu dan menilai. "Kamu benar", katamereka: "Kamu sudah buktikan bahwa kamu benar. Selusin kuda itubukan berkat. Mereka adalah kutukan. Satu-satunya puteramu patahkedua kakinya dan sekarang dalam usia tuamu kamu tidak adasiapa-siapa untuk membantumu... Sekarang kamu lebih miskin lagi.Orang tua itu berbicara lagi : "Ya, kalian kesetanan dengan pikiranuntuk menilai, menghakimi. Jangan keterlaluan. Katakan saja bahwaanak saya patah kaki. Siapa tahu itu berkat atau kutukan ? Tidak adayang tahu. Kita hanya mempunyai sepotong cerita.


Hidup ini datangsepotong-sepotong".Maka terjadilah dua minggu kemudian negeri itu berperang dengannegeri tetangga. Semua anak muda di desa diminta untuk menjaditentara. Hanya anak si orang tua tidak diminta karena ia terluka.Sekali lagi orang berkumpul sekitar orang tua itu sambil menangisdan berteriak karena anak-anak mereka sudah dipanggil untukbertempur. Sedikit sekali kemungkinan mereka akan kembali. Musuhsangat kuat dan perang itu akan dimenangkan musuh. Mereka tidak akanmelihat anak-anak mereka kembali. "Kamu benar, orang tua", merekamenangis : "Tuhan tahu, kamu benar. Ini buktinya. Kecelakaan anakmumerupakan berkat. Kakinya patah, tetapi paling tidak ia adabersamamu. Anak-anak kami pergi untuk selama-lamanya".

Orang tua itu berbicara lagi : "Tidak mungkin untuk berbicara dengankalian. Kalian selalu menarik kesimpulan. Tidak ada yang tahu.Katakan hanya ini: anak-anak kalian harus pergi berperang, dan anaksaya tidak. Tidak ada yang tahu apakah itu berkat atau kutukan.Tidak ada yang cukup bijaksana untuk mengetahui.

Hanya Allah yangtahu".Moral cerita:Orang tua itu benar. Kita hanya tahu sepotong dari seluruh kejadian.Kecelakaan-kecelakaan dan kengerian hidup ini hanya merupakan satuhalaman dari buku besar. Kita jangan terlalu cepat menarikkesimpulan. Kita harus simpan dulu penilaian kita dari badai-badaikehidupan sampai kita ketahui seluruh cerita."Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, danboleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat burukbagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS 2: 216)

0 comments: